The Most/Recent Articles

Showing posts with label Komponen Elektronika. Show all posts
Showing posts with label Komponen Elektronika. Show all posts

Silicon Controlled Switch (SCS) : Pengertian dan Prinsip Kerjanya



Silicon Controlled Switch atau disingkat dengan SCS merupakan komponen elektronika yang berfungsi sebagai pengendali atau sakelar (switch). Silicon Controlled Switch atau SCS ini termasuk anggota keluarga Thyristor dengan cara kerja yang hampir sama dengan SCR (Silicon Controlled Rectifier). 

Berbeda dengan SCR, Silicon Controlled Switches (SCS) memiliki 4 kaki terminal dan dirancang untuk dapat memutuskan arus listrik apabila kaki tambahannya yaitu kaki terminal Gerbang Anoda (Anode Gate) diberikan tegangan positif. Komponen SCS ini juga dapat dipicu untuk menghantarkan arus listrik apabila kaki Gerbang Anodanya ini diberikan tegangan negatif. Selain dari perbedaan pada fungsi kaki terminal Gerbang Anoda ini, semua cara kerjanya hampir sama dengan SCR yaitu dapat mengaktifkannya dengan memberikan tegangan positif pada kaki terminal Gate (Gerbang).

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Silicon Controlled Switch atau SCS ini memiliki 4 kaki terminal. Keempat kaki terminal tersebut adalah Katoda, Anoda, Gerbang dan Gerbang Anoda. Namun ada juga rangkaian ataupun produsen yang menyebutkannya berbeda, dimana Katoda (Cathode) akan disebut sebagai Emitor (Emitter), Gerbang (Gate) akan disebut sebagai Basis (Base) dan Gerbang Anoda (Anode Gate) akan disebut sebagai Kolektor.

Komponen Silicon Controlled Switches (SCS) ini pada umumnya digunakan pada rangkaian-rangkaian Elektronika seperti rangkaian counter, rangkaian pengendali lampu, rangkaian logika, rangkaian pengendali daya dan rangkaian-rangkaian lainnya yang memerlukan fungsi menghantarkan arus listrik (ON) dan memutuskan arus listrik (OFF) dengan dua pengendali Input yang berbeda.

Prinsip Kerja Silicon Controlled Switch (SCS)

Pada gambar dibawah ini menunjukan struktur dasar SCS dan rangkaian Ekuivalen SCS yang menggunakan dua transistor bipolar. Untuk mempermudah penjelasannya, mari kita melihat pada rangkaian ekuivalen SCS yang menggunakan dua transistor bipolar dibawah ini.


Saat tegangan positif diberikan ke terminal Gate (Gerbang), transistor NPN akan berubah menjadi ON sehingga arus listrik akan mengalir ke Basis transistor PNP dan mengakibatkan transistor NPN berubah menjadi ON juga. Dengan demikian, kedua transistor berada dalam kondisi ON sehingga dapat menghantarkan arus listrik dari Anoda ke Katoda (SCS berada dalam kondisi ON). Silicon Controlled Switch akan terus menghantarkan arus listrik (ON) hingga arus listrik mengalir dari Anoda ke Katoda tersebut diputuskan atau membalikan polaritas Anoda dan Katoda ataupun memberikan tegangan positif ke terminal Anode Gate (Gerbang Anoda) yang kemudian menyebabkan SCS berubah menjadi OFF.

Selain menggunakan Terminal Gate (Gerbang), kita juga dapat menggunakan Terminal Gerbang Anoda (Anode Gate) untuk memicu SCS menjadi ON yaitu dengan memberikan tegangan negatif pada Gerbang Anoda tersebut. Pada saat terminal Gerbang Anoda diberikan tegangan negatif, transistor PNP akan menjadi ON dan memberikan arus listrik ke transistor NPN sehingga transistor NPN ini juga berubah menjadi ON. Dengan demikian, perangkat SCS ini berada di kondisi ON dan dapat mengalirkan arus listrik dari Anoda ke Katoda. Untuk menonaktifkan SCS, kita perlu memutuskan arus listrik yang mengalir dari Anoda ke Katoda atau membalikan polaritas pada Anoda dan Katoda ataupun memberikan tegangan positif ke terminal Gerbang Anoda.

Mungkin sedikit info dari kami mengenai prinsip kerja Silicon Controlled Switch (SCS) dan pengertiannya semoga bisa bermanfaat.


Motor DC : Pengertian dan Prinsip Kerjanya

Motor DC merupakan suatu perangkat yang mengubah energi listrik menjadi energi kinetik atau gerakan (motion). Motor DC ini juga dapat disebut sebagai Motor Arus Searah. Seperti namanya, DC Motor memiliki dua terminal dan memerlukan tegangan arus searah atau DC (Direct Current) untuk dapat menggerakannya.

Motor Listrik DC ini biasanya digunakan pada perangkat-perangkat Elektronik dan listrik yang menggunakan sumber listrik DC seperti Vibrator Ponsel, Kipas DC dan Bor Listrik.

Motor DC menghasilkan sejumlah putaran per menit atau biasanya dikenal dengan istilah RPM (Revolutions per minute) dan dapat dibuat berputar searah jarum jam maupun berlawanan arah jarum jam apabila polaritas listrik yang diberikan pada Motor DC tersebut dibalikan. Motor Listrik DC tersedia dalam berbagai ukuran rpm dan bentuk.

Kebanyakan Motor Listrik DC memberikan kecepatan rotasi sekitar 3000 rpm hingga 8000 rpm dengan tegangan operasional dari 1,5V hingga 24V. Apabila tegangan yang diberikan ke Motor Listrik DC lebih rendah dari tegangan operasionalnya maka akan dapat memperlambat rotasi motor DC tersebut sedangkan tegangan yang lebih tinggi dari tegangan operasional akan membuat rotasi motor DC menjadi lebih cepat.

Namun ketika tegangan yang diberikan ke Motor DC tersebut turun menjadi dibawah 50% dari tegangan operasional yang ditentukan maka Motor DC tersebut tidak dapat berputar atau terhenti. Sebaliknya, jika tegangan yang diberikan ke Motor DC tersebut lebih tinggi sekitar 30% dari tegangan operasional yang ditentukan, maka motor DC tersebut akan menjadi sangat panas dan akhirnya akan menjadi rusak.

Pada saat Motor listrik DC berputar tanpa beban, hanya sedikit arus listrik atau daya yang digunakannya, namun pada saat diberikan beban, jumlah arus yang digunakan akan meningkat hingga ratusan persen bahkan hingga 1000% atau lebih (tergantung jenis beban yang diberikan). Oleh karena itu, produsen Motor DC biasanya akan mencantumkan Stall Current pada Motor DC. Stall Current adalah arus pada saat poros motor berhenti karena mengalami beban maksimal


Simbol dan Bentuk Motor DC





Prinsip Kerja Motor DC


Terdapat dua bagian utama pada sebuah Motor Listrik DC, yaitu Stator dan Rotor. Stator adalah bagian motor yang tidak berputar, bagian yang statis ini terdiri dari rangka dan kumparan medan. Sedangkan Rotor adalah bagian yang berputar, bagian Rotor ini terdiri dari kumparan Jangkar. Dua bagian utama ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa komponen penting yaitu diantaranya adalah Yoke (kerangka magnet), Poles (kutub motor), Field winding (kumparan medan magnet), Armature Winding (Kumparan Jangkar), Commutator (Komutator) dan Brushes (kuas/sikat arang).

Pada prinsipnya motor listrik DC menggunakan fenomena elektromagnet untuk bergerak, ketika arus listrik diberikan ke kumparan, permukaan kumparan yang bersifat utara akan bergerak menghadap ke magnet yang berkutub selatan dan kumparan yang bersifat selatan akan bergerak menghadap ke utara magnet. Saat ini, karena kutub utara kumparan bertemu dengan kutub selatan magnet ataupun kutub selatan kumparan bertemu dengan kutub utara magnet maka akan terjadi saling tarik menarik yang menyebabkan pergerakan kumparan berhenti


Untuk menggerakannya lagi, tepat pada saat kutub kumparan berhadapan dengan kutub magnet, arah arus pada kumparan dibalik. Dengan demikian, kutub utara kumparan akan berubah menjadi kutub selatan dan kutub selatannya akan berubah menjadi kutub utara. Pada saat perubahan kutub tersebut terjadi, kutub selatan kumparan akan berhadap dengan kutub selatan magnet dan kutub utara kumparan akan berhadapan dengan kutub utara magnet.

Karena kutubnya sama, maka akan terjadi tolak menolak sehingga kumparan bergerak memutar hingga utara kumparan berhadapan dengan selatan magnet dan selatan kumparan berhadapan dengan utara magnet. Pada saat ini, arus yang mengalir ke kumparan dibalik lagi dan kumparan akan berputar lagi karena adanya perubahan kutub. Siklus ini akan berulang-ulang hingga arus listrik pada kumparan diputuskan

Nah itulah sedikit informasi dari kami mengenai pengertian dan prinsip kerja dari motor dc semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Media Transmisi : Pengertian dan Jenisnya

Pada kesempatan yang baik ini kami akan memberikan sedikit informasi mengenai Media Transmisi. Untuk mengirimkan data atau informasi dari satu tempat ke tempat lainnya, kita memperlukan suatu media atau jalur untuk membawanya hingga pada tujuan yang diinginkan. Media yang membawa data tersebut biasanya disebut dengan Media 

Transmisi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Transmision Medium. Jadi pada dasarnya, yang dimaksud dengan Media Transimisi adalah media atau jalur yang digunakan untuk membawa informasi dari pengirim (sender) ke penerima (receiver).
Setiap perangkat elektronik yang difungsikan sebagai alat komunikasi memiliki media transmisi yang berbeda-beda. Contohnya, Telepon Kabel menggunakan Kabel sebagai media transmisinya, Telepon Selular (Ponsel), siaran televisi dan Radio FM menggunakan Frekuensi Radio sebagai media transmisinya, remote control televisi menggunakan infrared (infra merah) sebagai media transmisinya dan lain sebagainya.
Dalam teknik elektronika, Informasi yang ditransmisikan tersebut dapat berupa sinyal listrik ataupun elektromagnetik. Kualitas dan kemampuan suatu media transmisi pada umumnya tergantung pada beberapa faktor.
  • Bandwidth (Lebar Pita), yaitu lebar cakupan frekuensi yang digunakan oleh sinyal dalam media transmisi. Satuan bandwidth adalah Hertz.
  • Noise, yaitu gangguan yang terjadi pada saat transmisi data melalui media transmisi tertentu. Noise pada dasarnya adalah sinyal yang tidak diinginkan oleh pengirim maupun penerima.
  • Radiasi, yaitu kebocoran sinyal dari media karena adanya karakteristik listrik yang tidak diinginkan pada media yang bersangkutan.
  • Attenuation, yaitu tingkat kehilangan energi saat perambatan sinyal atau pelemahan sinyal pada saat perambatan.

Jenis-jenis Media Transmisi

Secara garis besar, Media-media Transmisi dapat dibagi menjadi 2 jenis utama yaitu Wired atau Guided Media dan Wireless atau Unguided Media.

1. Media yang dituntun (Guided Media atau Wired)

Media yang dituntun atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Guided Media adalah jenis media yang memiliki bentuk fisik seperti Kabel pasangan berpilin (twisted pair), kabel serat optik (Fiber optic cable) dan kabel coaksial (coaxial cable). Setiap media transmisi memiliki karakteristiknya tersendiri seperti kecepatan transmisi, efek suara, biaya dan penampilan fisiknya. Dikatakan sebagai Guided Media karena Sinyal listrik atau gelombang-gelombang dituntun transmisinya melewati media fisik. Ada juga yang menyebutkan Guided Media sebagai Wired atau Bound transmission media.


1.1. Kabel pasangan berpilin (Twisted pair cable)

Twisted pair Cable pada dasarnya merupakan sepasang kabel tembaga yang diputar bersama-sama berbentuk spiral dan dibungkus dengan lapisan plastik. Twisted Pair Cable ini pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu Kabel UTP (unshielded Twisted Pair) dan STP (Shielded Twisted Pair). Diameter Twisted Pair sekitar 0,4mm hingga 0,8mm.

1.2. Kabel Koaksial (Coaxial Cable)

Kabel Koaksial (Coaxial Cable) adalah kabel dua konduktor yang mana satu konduktor berada di rongga luar mengelilingi satu konduktor tunggal yang dipisahkan oleh bahan Isolator. Kabel jenis ini memiliki impedansi transmisi yang konstan serta tidak menghasilkan medan magnet sehingga cocok untuk mentransmisikan sinyal frekuensi tinggi.

1.3. Kabel Serat Optik (Fiber Optic Cable)

Kabel Serat Optik atau Fiber Optic Cable adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari serat kaca atau plastik halus yang dapat mentransmisikan sinyal cahaya dari satu tempat ke tempat lainnya. Sumber cahayanya dapat berupa sinar Laser ataupun sinar LED. Diameter kabel serat optik sekitar 120 mikrometer.

2. Media yang tidak dituntun (Unguided Media atau Wireless)

Media yang tidak dituntun atau Unguided Media adalah media yang menggunakan sistem gelombang elektromagnetik dalam mentransmisikan informasi dari pengirim ke penerima tanpa ada perangkat fisik yang menuntunnya. Unguided Media ini lebih dikenal dengan istilah Wireless yaitu media transmisi tanpa kabel. Media yang tidak dituntun atau Unguided Media ini diantaranya adalah Frekuensi Radio, Gelombang Mikro (Microwave), Inframerah dan Satelit. Unguided Media ini juga disebut dengan Unbounded Transmission Media.

2.1. Frekuensi Radio (Radio Frequency)

Frekuensi Radio adalah media transmisi yang menggunakan gelombang elektromagnetik dengan kisaran frekuensi diantara 3kHz hingga 300Ghz. Frekuensi Radio pada umumnya menggunakan antena untuk menyebarkan gelombang elektromagnetiknya. Media Transmisi Frekuensi Radio banyak diaplikasikan di Televisi, Radio FM.
2.2. Gelombang Mikro (Microwave)
Gelombang Mikro atau Microwave adalah Media Transmisi yang menggunakan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi super tinggi (Super High Frequency) yaitu frekuensi yang berada di kisaran 3GHz hingga 30GHz dengan panjang gelombang sekitar 1mm hingga 1m untuk mentransmisikan sinyal dari pengirim ke penerima.

2.3. Infra Merah (Infrared)

Infra Merah atau Infrared adalah media transmisi yang menggunakan radiasi elektromagnetik dari panjang gelombang yang lebih panjang dari cahaya tampak tetapi lebih pendek dari radiasi gelombang radio. Inframerah biasanya digunakan pada komunikasi jarak dekat seperti remote control pada televisi maupun perangkatn elektronika lainnya.

2.4. Satelit

Satelit adalah jenis Media Transmisi yang menggunakan Satelit sebagai penerima sinyal dari stasiun bumi dan memancarnya ke stasiun bumi lainnya. Satelit pada umumnya mengorbit di pada ketinggian 36.000km dari permukaan bumi. Setiap satelit yang mengorbit akan beroperasi pada sejumlah band frekuensi yang disebut dengan channel transponder. Media Transmisi ini sering digunakan untuk Siaran Televisi, Telepon Jarak Jauh dan Jaringan Bisnis Privat (Private Business Network).

Mungkin cukup ini dulu informasi dari kami mengenai Media Transmisi : Pengertian dan Jenisnya semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Fungsi IC dan Contoh Penggunaannya



Dalam kesempatan yang baik ini kami akan melanjutkan memberikan sebuah informasi mengenai komponen elektronika yaitu IC. Menjelaskan fungsi IC secara umum memang perlu pemahaman mendalam sehingga apa yang kita mengerti tentang contoh penggunaan IC dalam rangkaian elektronika akan memberikan jabaran yang mudah dipahami, menarik untuk disimak dan dapat dilihat secara langsung apa pengertian IC regulator serta IC pada umumnya dalam dunia nyata. 

Hal ini tidak mudah dilakukan karena melihat fungsi IC 555 atau fungsi IC 741 misalnya, memerlukan pemahaman menyeluruh mulai dari komponen pendukung seperti resistor, capasitor sampai dengan bagaimana alur skema dari rangkaian tersebut sehingga dapat dipahami dengan seksama dan tidak membuat kita kesulitan apalagi bingung untuk mengerti maksud dari penjabaran tersebut. Setelah kita paham mengenai fungsi dari IC diharapkan juga mengerti cara kerja IC secara umum sehingga tidak ada lagi yang perlu dijelaskan ketika menghadapi praktek secara langsung di lapangan apalagi dengan keterangan yang minimal.

Secara luas dapat kita temukan banyak sekali jenis jenis IC yang digunakan dalam perangkat elektronika, apalagi dijaman modern sekarang ini hampir semua perangkat menggunakan komponen yang satu ini, sehingga kita dapat melihat langsung bentuk IC ini dengan mudah, menemukan perbedaan antara tiap jenis sesuai dengan penggunaannya yang mungkin akan membuat kita semakin ingin tahu apa sih fungsi IC sebenarnya? 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut akan kita kupas dalam tulisan dibawah ini yang semoga dapat memberikan pemahaman bagi kita semua khususnya yang ingin tahu sejarah singkat ditemukannya IC mungkin bisa menyimak lebih lanjut karena dalam pertemuan mendatang akan kita ungkapkan mengenai hal yang satu ini.

Pengertian IC: Integrated Circuit atau disingkat dengan IC adalah Komponen Elektronika Aktif yang terdiri dari gabungan ratusan, ribuan bahkan jutaan Transistor, Dioda, Resistor dan Kapasitor yang dikemas dalam bentuk mini dalam sebuah kesatuan atau integrasi pintar sehingga terciptalah IC. Integrated Circuit (IC) terbentuk dari sebuah silicon atau semikonduktor yang memiliki sifat sebagai penghambat sekaligus penghantar arus listrik. Silicon merupakan bahan semikonduktor yang paling sering digunakan dalam Teknologi Fabrikasi Integrated Circuit (IC). 

Dalam bahasa Indonesia, Integrated Circuit atau IC ini sering kita temukan dalam bahasa sederhana dinamakan sirkuit terpadu yang merupakan penyebutan IC dalam bahasa sehari-hari sehingga lebih mudah kita pahami.

Ada banyak sekali fungsi IC berdasarkan rangkaian yang digunakan dan tujuan pembuatan rangkaian tersebut, secara umum dan ringkasnya dapat dilihat seperti dalam penjabaran dibawah ini:
IC analog atau IC linier, memiliki banyak fungsi dan kegunaan, simak penjelasannya berikut:
  1. Penguat Sinyal (Signal Amplifier)
  2. Penguat Daya (Power Amplifier)
  3. Penguat Operasional (Operational Amplifier / Op Amp)
  4. Penerima Frekuensi Radio (Radio Receiver)
  5. Regulator Tegangan (Voltage Regulator)
  6. Penguat RF dan IF (RF and IF Amplifier)
  7. Voltage Comparator
  8. Multiplier
  9. Penguat Sinyal Mikro (Microwave Amplifier)
Sedangkan IC digital layaknya sebuah saklar hanya memiliki tegangan output tinggi dan rendah, atau dalam bahasa biner 0 dan 1. Fungsinya adalah sebagai berikut:
  1. Flip-flop
  2. Gerbang Logika (Logic Gates)
  3. Timer
  4. Counter
  5. Multiplexer
  6. Calculator
  7. Memory
  8. Clock
  9. Microprocessor (Mikroprosesor)
  10. Microcontroller
Contoh penggunaan IC ada banyak sekali seperti yang sudah dijelaskan diatas, misalnya pada calculator sebagai mesin hitung, komputer, jam tangan, rangkaian lampu berjalan atau running LED, timer, amplifier, dan masih banyak lagi yang selebihnya dapat kita temukan secara langsung dalam perangkat elektronika sehari-hari disekitar kita. Mungkin perlu melihat secara langsung bentuk fisik IC sehingga tidak ada kebingungan mengenai hal tersebut dan apa yang disampaikan dalam teori dapat kita pahami sepenuhnya.

Nah demikianlah informasi dari kami mengenai Fungsi IC dan Contoh Penggunaannya semoga bisa bermanfaat bagi kita semua

Fungsi Transistor Sebagai Saklar

Pada dunia elektronika, sebetulnya rangkaian elektronika yang hanya mengenal kondisi arus listrik menyala dan mati, atau dalam dunia digitalnya adalah hanya mengenal 0 dan 1 atau  0 volt dan 5 volt. Dalam beberapa kondisi hal itu di atur dalam konsep switching, switching/saklar adalah komponen mekanis yang bisa memutus atau mengalihkan arus listrik dalam sirkuit elektronik.

Saklar atau switching dalam dunia rangkaian elektronika bisa di lakukan dengan beberapa cara seperti dengan IC (Integrated Ciruit), transistor (transistor sebagai saklar), atau juga komponen mekanis yang disebutkan di awal, dan lain-lain.

Cara kerja transistor sebagai saklar atau biasa disebut sebagai saklar solid state adalah satu aplikasi utama untuk penggunaan transistor, dan transistor sebagai saklar dapat digunakan untuk mengendalikan perangkat elektronika dengan daya tinggi seperti motor, solenoid atau lampu, tetapi transistor sebagai saklar juga dapat digunakan dalam elektronika digital dan sirkuit gerbang logika digital.

Nah sudah sudah kita ketahui bahwa area kerja dari sebuah transistor adalah area aktif, area jenuh dan area cut-off. Dalam aplikasi transistor sebagai saklar, yang mana area kerja transistor akan berada di area jenuh dan area cut-off.

Transistor Sebagai Saklar: Karakteristik area cut-off


Keterangan gambar:

Input basis dan basis dibuat ground atau V = 0 volt
Tegangan basis ke emitor ( Vce < 0.7 volt)
Arus yang lewat kolektor = 0 (IC=0 volt)
Tegangan keluaran (Vout) = Vce = Vcc = 1

Gambar tersebut merupakan skema rangkaian kerja dari transistor sebagai saklar. Arus masuk dari kaki basis (Ib) pada transistor adalah nol dan arus keluaran pada kaki kolektor (Ic) juga adalah nol, dan tegangan maksimum berada di kaki kolektor (Vce), kondisi di atas membuat arus tidak bisa memasuki komponen ini, oleh karena itu kondisi ini adalah dimana transistor berada dalam kondisi “full-off” atau kondisi tidak aktif secara penuh. Jadi bisa kita definisikan bahwa kondisi di atas adalah kondisi dimana transistor sebagai saklar berada dalam area kerja cut-off atau tidak aktif secara penuh.

Transistor Sebagai Saklar: Karakteristik area jenuh (saturation)

Dalam kondisi ini arus yang di kaki basis akan dibuat maksimum sehingga menghasilkan arus maksimum pada kaki kolektor dan membuat tegangan di kaki emitor mengecil atau minimum. Hal ini membuat arus yang maksimal mengalir pada transistor ini, kondisi ini disebut membuat transistor sebagai saklar menjadi “full-on”


Keterangan gambar:

Input dan basis dihubungkan ke Vcc
Tegangan basis ke emitor Vbe > 0.7 volt
Transistor dalam kondisi full-on
Arus maksimal mengalir melewati kaki kolektor (Ic = Vcc / Rl)
Tegangan yang lewat kaki emitor (Vce) = 0
Transistor beroperasi dalam kondisi saklar tertutup atau closed switch

Kita bisa mendefinisikan bahwa area jenuh atau saturasi adalah kondisi dimana transistor dalam “mode on”, ketika menggunakan transistor bipolar sebagai saklar dua persimpangan mengalami bias maju dimana Vb > 0.7 volt dan arus di dari kolektor Ic = maksimum.

Ada istilah lain yang disebut untuk kondisi ini, yaitu kondisi kerja transistor single-pole single-throw (SPST) saklar solid state. Prinsip kerjanya yaitu dengan sinyal yang masuk ke kaki basis adalah nol dan transistor menjadi “Off” sehingga bertindak seperti saklar terbuka dengan arus yang mengalir ke kolektor adalah nol.

Sedangkan ketika sinyal yang dimasukan ke kaki basis adalah positif maka hal itu akan membuat transistor menjadi “On” dan bertindak seperti saklar tertutup sehingga ada arus maksimum yang melewati komponen ini.

Dalam beberapa kasus penggunaan transistor sebagai saklar membutuhkan atau menggunakan jenis transistor yang berbeda, misalnya untuk tegangan yang tinggi bisa menggunakan transistor jenis darlington.

 Kesimpulan ketika transistor digunakan sebagai saklar

  • Saklar transistor bisa digunakan untuk saklar dan untuk mengontrol lampu, relay atau bahkan motor.
  • Jika menggunakan transistor sebagai saklar maka harus benar-benar mengatur sampai transistor full off atau full on
  • Transistor yang sepenuhnya “ON” adalah pada saat area jenuh atau saturasi.
  • Transistor yang sepenuhnya “OFF” adalah pada saat area cut-off.
  • Bila menggunakan transistor sebagai saklar, arus kecil pada basis mengontrol hambatan atau beban yang lebih besar pada Kolektor saat itu.
  • Ketika perlu mengatur arus dan tegangan yang besar maka transistor darlington bisa digunakan.

  • Demikianlah artikel tentang Fungsi Transistor Sebagai Saklar semoga bisa bermanfaat


Mengenal Fungsi dan Jenis Komponen Elektronika

Pada pengenalan komponen elektronika ini akan dibahas jenis-jenis komponen elektronika, fungsi komponen elektronika, beserta simbol yang digunakan pada komponen elektronika. 

Bersumber dari wikipedia bidang elektronika adalah ilmu yang mempelajari arus lemah listrik yang berfungsi mengontrol partikel yang bermuatan tegangan listrik. contohnya seperti komputer yang didalamnya bermuatan listrik. 

Secara umum, komponen elektronika dapat dibagi atas 2 macam berdasarkan fungsi kerjanya yaitu komponen elektronika pasif dan komponen elektronika aktif.

  1. Komponen pasif adalah komponen elektronika yang dapat beroperasi tanpa memerlukan arus atau tegangan listrik tambahan saat bekerja. Contoh komponen pasif yaitu resistor, kapasitor, induktor.
  2. Komponen aktif adalah komponen elektronika yang memerlukan arus atau tegangan internal (sumber tambahan) untuk dapat beroperasi. Komponen aktif ini dapat menguatkan dan menyearahkan arus listrik, komponen aktif juga dapat mengubah bentuk energi menjadi energi lain. Contoh komponen aktif adalah dioda, transistor, IC (integrated circuit) dan tranformator.

Jenis-Jenis Komponen Elektronika

1. Resistor

Resistor adalah komponen dasar  elektronika  pasif yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang  mengalir  dalam  satu  rangkaian.  Sesuai  dengan  namanya  resistor  bersifat  resistif  dan umumnya   terbuat  dari  bahan  karbon. Satuan Nilai Resistor atau Hambatan adalah Ohm (Ω). Nilai resistor biasanya diwakili dengan kode angka ataupun gelang warna yang terdapat di badan resistor. Hambatan resistor sering disebut juga dengan Resistansi atau Resistance.

Secara umum resistor diklasifikasikan atas 4 jenis yaitu resistor tetap, resistor variabel, resistor suhu dan resistor cahaya.

Perhatikan komponen elektronika jenis resistor berikut yang dilengkapi dengan simbol dan fungsi

komponen elektronika jenis resistor berikut yang dilengkapi dengan simbol dan fungsi

Perhatikan komponen elektronika jenis resistor berikut yang dilengkapi dengan gambar

komponen elektronika jenis resistor berikut yang dilengkapi dengan gambar

 2. Kapasitor ( Kondensator)

Kapasitor  atau kondensator ialah komponen elektronika yang  mempunyai  kemampuan  menyimpan elektron-elektron selama waktu yang tidak tertentu. Kapasitor berbeda dengan akumulator dalam menyimpan  muatan  listrik  terutama  tidak  terjadi  perubahan kimia  pada  bahan  kapasitor, besarnya  kapasitansi  dari  sebuah  kapasitor  dinyatakan  dalam   Farad (F). 

Fungsi-fungsi Kapasitor diantaranya adalah dapat memilih gelombang radio pada rangkaian Tuner, sebagai perata arus pada rectifier dan juga sebagai Filter di dalam Rangkaian Power Supply (Catu Daya).

Secara umum kapasitor diklasifikasikan atas 2 jenis yaitu kapasitor tetap dan kapasitor variabel. 

Perhatikan komponen elektronika kapasitor resistor berikut yang dilengkapi dengan simbol dan fungsi

komponen elektronika kapasitor resistor berikut yang dilengkapi dengan simbol dan fungsi

Perhatikan komponen elektronika jenis kapasitor berikut yang dilengkapi dengan gambar 

komponen elektronika jenis kapasitor berikut yang dilengkapi dengan gambar

3. Induktor

Induktor atau disebut juga dengan Coil (Kumparan) adalah Komponen Elektronika Pasif yang berguna untuk Mengatur Frekuensi, memfilter dan juga sebagai alat kopel (Penyambung). Induktor atau Coil banyak ditemukan pada Peralatan atau Rangkaian Elektronika yang berkaitan dengan Frekuensi seperti Tuner untuk pesawat Radio. 

Pada rangkaian DC, induktor digunakan memperoleh tegangan DC yang konstan terhadap fluktuasi arus, sedangkan pada rangkaian AC induktor dapat meredam fluktuasi arus yang tidak diinginkan. Satuan Induktansi untuk Induktor adalah Henry (H).

Secara umum komponen elektronika induktor dibagi atas induktor tetap dan induktor tidak tetap (coil variable)

Perhatikan komponen elektronika jenis induktor berikut yang dilengkapi dengan gambar dan simbol

 4. Dioda

Dioda atau diode adalah komponen elektronika aktif yang berfungsi untuk mengalirkan arus listrik pada satu arah saja, selain itu juga mampu menghambat arus listrik dari arah berlawanan. Diode adalah komponen elektronika semikonduktor yang memiliki 1 buah penghubung atau junction, sering disebut sebagai komponen 2 lapis (lapis N dan P).

Berdasarkan Fungsinya Dioda terdiri atas beberapa jenis diantaranya :
  1. Dioda Biasa atau Dioda Penyearah (rectifier) yang umumnya terbuat dari bahan Silikon atau germanium dan berfungsi sebagai penyearah arus bolak balik (AC) ke arus searah (DC).
  2. Dioda Schottky (SCR atau Silicon Control Rectifier) adalah Dioda yang berfungsi sebagai pengendali . 
  3. Dioda Zener (Zener Diode) yang berfungsi sebagai pengamanan rangkaian setelah tegangan yang ditentukan oleh Dioda Zener yang bersangkutan. Tegangan tersebut sering disebut dengan Tegangan Zener.
  4. Dioda Laser (Laser Diode) yaitu Dioda yang mampu memancarkan cahaya Laser. Dioda Laser sering disingkat dengan LD
  5. Dioda Foto (Photo Diode) yaitu Dioda yang peka terhadap cahaya sehingga sering juga digunakan sebagai Sensor.
  6. LED (Light Emitting Diode) atau Diode Emisi Cahaya yaitu Dioda yang mampu memancarkan cahaya monokromatik.
Perhatikan komponen elektronika jenis dioda berikut yang dilengkapi dengan simbol dan fungsinya


Perhatikan komponen elektronika jenis dioda berikut yang dilengkapi dengan gambar


komponen elektronika jenis dioda berikut yang dilengkapi dengan gambar

5. Transistor

Transistor adalah komponen elektronika aktif multitermal, biasanya memiliki 3 terminal. Secara harfiah,  kata  ‘Transistor’  berarti  ‘Transfer  resistor’,  yaitu  suatu  komponen  yang  nilai  resistansi antara terminalnya dapat diatur.

Beberapa fungsi Transistor diantaranya adalah sebagai Penguat arus, sebagai Switch (Pemutus dan penghubung), Stabilitasi Tegangan, Modulasi Sinyal, Penyearah dan lain sebagainya. Transistor terdiri dari 3 Terminal (kaki) yaitu Base/Basis (B), Emitor (E) dan Collector/Kolektor (K).
Berdasarkan strukturnya, Transistor terdiri dari 2 Tipe Struktur yaitu PNP dan NPN. UJT (Uni Junction Transistor), FET (Field Effect Transistor) dan MOSFET (Metal Oxide Semiconductor FET).

Perhatikan komponen elektronika jenis transistor berikut yang dilengkapi dengan simbol dan fungsinya

komponen elektronika jenis transistor berikut yang dilengkapi dengan simbol dan fungsinya


Perhatikan komponen elektronika jenis transistor berikut yang dilengkapi dengan gambar

komponen elektronika jenis transistor berikut yang dilengkapi dengan gambar

6. IC (Integrated Circuit)

IC adalah komponen elektronika aktif yang merupakan kumpulan dari berbagai komponen hingga ribuan komponen elektronika yang terdiri dari transistor, resistor, dan komponen elektronika lainnya yang membentuk suatu rangkaian elektronika dan memiliki fungsi elektronika tertentu yang dikemas dalam sebuah kemasan yang komplek dan kecil dengan pin atau kaki untuk menjalankan fungsinya. Bentuk IC (Integrated Circuit) juga bermacam-macam, mulai dari yang berkaki 3 (tiga) hingga ratusan kaki (terminal).

Pada umumnya, IC adalah Komponen Elektronika dipergunakan sebagai Otak dalam sebuah Peralatan Elektronika misalnya micropoccesor. Fungsi IC bermacam-macam yakni dpat berfungsi sebagai penguat, pengontrol, swiching, dan memori atau media penyimpanan.

Perhatikan komponen elektronika jenis IC berikut yang dilengkapi dengan gambar dan simbol

komponen elektronika jenis IC berikut yang dilengkapi dengan gambar dan simbol

7. Saklar (Relay)

Saklar atau relay adalah komponen elektronika aktif yang dipergunakan untuk memutuskan serta menghubungkan aliran listrik. Saklar berdasarkan fungsinya dibedakan atas dua kondisi yaitu kondsi ON dan kondisi OFF. 

Perhatikan komponen elektronika jenis saklar berikut yang dilengkapi dengan gambar dan simbol

komponen elektronika jenis saklar berikut yang dilengkapi dengan gambar dan simbol

8. Transformator

Secara harfiah transformator dapat juga disingkat trafo merupakan komponen elektronika aktif yang memilki 2 fungsi utama yaitu untuk menaikkan tegangan (transformator step-up) dan menurunkan tegangan (step-down). Trasformator atau trafo bekerja berdasarkan perubahan gaya medan listrik.

Perhatikan komponen elektronika jenis transformator berikut yang dilengkapi dengan gambar dan simbol 

komponen elektronika jenis transformator berikut yang dilengkapi dengan gambar dan simbol


Note : Sebagai tambahan pengunaan simbol pada sebagian besar komponen  elektronik mengacu pada simbol amerika dan eropa. Silahkan memilih simbol yang akan anda gunakan. Perhatikan contoh gambar dibawah untuk menjelaskan perbedaan tersebut.

Perbadaan simbol komponen elektronika

Pengertian Istilah Thermistor NTC dan PTC



Sebelum kita mempelajari lebih jauh mengenai elektronika alangkah baiknya seorang teknisi elektronika tentu harus mengetahui berbagai macam komponen elektronika mulai dari namanya, fungsinya, jenisnya, sampai dengan simbol-simbolnya. Mungkin para teknisi elektronika sudah tidak asing lagi dengan komponen dasar seperti resistor, dioda, dan kapasitor.

Namun bagaimana dengan thermistor ? Komponen tersebut memang tidak termasuk komponen elektronika dasar karena tidak semua rangkaian elektronika menggunakan komponen yang satu ini. Selain itu komponen thermistor juga jarang kita jumpai di toko-toko komponen elektronika yang biasa-biasa saja.

Oleh karena itu, untuk menambah wawasan anda, belajarelektronika.net akan berbagi sedikit info mengenai komponen thermistor. Ya, akan kami ulas lebih lengkap mengenai apa itu thermistor, bagaimana simbol dan juga jenis-jenisnya. Bagi anda yang ingin kenal lebih jauh dengan komponen thermistor, bisa langsung simak ulasan berikut.

Thermistor adalah salah satu jenis resistor yang resistansinya berubah seiring dengan perubahan temperatur lingkungan. Ada 2 jenis thermistor, yaitu : Negative Temperature Coefficient (NTC), dan Positive Temperature Coefficient (PTC). NTC adalah salah satu jenis thermistor yang resistansinya mengecil apabila temperatur lingkungan meningkat dan resistansinya akan membesar apabila temperatur lingkungan menurun. Akibatnya arus listrik yang mengalir pada rangkaian menjadi semakin besar. Sedangkan PTC adalah salah satu jenis thermistor yang resistansinya membesar apabila temperatur lingkungan meningkat dan resistansinya mengecil apabila temperatur lingkungan menurun.

Thermistor dibuat dari bahan semikonduktor seperti nikel oksida, mangan oksida, atau kobalt oksida dan mampu melepaskan lebih banyak muatan seiring dengan peningkatan jumlah energi panas. Dengan karakteristik tersebut maka thermistor dapat menjadi sensor suhu pada peralatan yang membutuhkan otomatisasi pengaturan dengan salah satu variabelnya adalah suhu. Thermistor banyak dipakai sebagai sensor suhu penggerak kipas pada komputer, setrika listrik, termometer listrik, dan AC.

Nah itulah sedikit informasi dari kami mengenai Pengertian Istilah Thermistor NTC dan PTC semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.