The Most/Recent Articles

Showing posts with label Rangkaian Elektronika. Show all posts
Showing posts with label Rangkaian Elektronika. Show all posts

Bagan atau Skema Rangkaian Elektronika Sirine Mobil

Kita semua tentu sudah sering kali mendengar suara sirine baik sirine mobil polisi, sirine ambulan, sirine patwal, sirine pemadam kebakaran, sirine motor touring, dan masih banyak lagi yang lain. Tapi pernahkah anda berfikir bagaimana cara membuat sirine tersebut?

Memang kita bisa membeli sirine siap pakai di toko-toko elektronik. Ada sirine model 3 suara, sirine 6 suara, dan sirine 9 suara. Jadi satu sirine tersebut dapat mengelurkan bermacam-macam jenis suara mulai dari wiuw wiuw, telolet, tot tot tot, dan beberapa jenis suara sirine lainnya. Harganya pun sangat beragam tergantung fitur yang ditawarkan.

Namun tak ada salahnya apabila kita mencoba membuat sirine sendiri menggunakan beberapa komponen elektronika sederhana yang bisa dengan mudah kita jumpai di pasaran. Hitung-titung lebih hemat biaya dibanding beli sirine siap jadi, sekaligus untuk mengasah skill kita dalam menjadi seorang teknisi elektronika.

Rangkaian Sirene Mobil ini merupakan rangkaian elektronika yang bisa digunakan untuk memberi peringatan/warning dengan cara mengeluarkan bunyi. Sirene mobil polisi memiliki suara yang khas. Dari kejauhan dan tanpa melihat pun orang akan segera tahu bahwa mobil yang akan melintas itu adalah mobil polisi. Sekarang sirene mobil polisi tidak monopoli milik polisi karena kita pun membuat membuat rangkaian yang bisa menghasilkan suara seperti sirene mobil polisi.
Rangkaian ini cukup simpel. Komponen-komponen yang diperlukan pun tidak begitu banyak dan mudah diperoleh di pasaran. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa he he he Rangkaian ini bisa juga dipakai sebagai bel pintu atau di kamar sebagai alarm. Desain kecil yang unik akan memungkinkan Anda untuk menyimpan rangkaian ini hampir di mana saja. Mengoperasikannya bisa dengan 6 V (kombinasi dari empat seri D, AAA atau baterai ukuran AA), 9 V baterai, dan baterai mobil 12 V. Rangkaian Sirene Mobil  ini dirancang untuk pemula maupun ahli.


Gambar Skema Rangkaian Sirene Mobil
Daftar komponen :

  • 2N3904 Transistor 1pc.
  • TIP30C Transistor 1pc.
  • 51k Ohms Resistor 2pc.
  • 1.5K Ohms Resistor 2pc.
  • 0.1Mf/25v Kapasitor 1pc.
  • 47Mf/25v Kapacitor 1pc.
  • 8 Ohms Speaker


Kami memilih transistor NPN 2N3904 untuk mendorong kekuatan transistor PNP TIP30C. 2N3904 adalah penguat umum dan saklar transistor yang membuatnya sempurna untuk Rangkaian Sirene Mobil Polisi ini. Penurunan volume dapat dilakukan dengan mudah dengan memperpendek resistor R1 1.5k ohm (coklat, hijau, merah).  

Ini akan mengurangi arus di dasar Q2. Akibatnya kekuatan untuk speaker akan menurun dari sekitar 5 sampai 6 W ke 200 sampai 300 mW. Untuk mengubah nada suara pun mudah dilakukan dengan mengurangi ukuran kapasitor elektrolit yaitu C2 = 22uF, 10uF atau 4.7uF.

Nah itulah sedikit informasi dari kami mengenai Bagan atau Skema Rangkaian Elektronika Sirine Mobil semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.





Bagan atau Skema Antena HT Jarak Jauh Sederhana



Bagi sebagian orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya HT. Ya, HT atau yang juga dikenal dengan nama walkie talkie adalah sebuah alat komunikasi genggam yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dua arah antara dua orang atau lebih menggunakan media gelombang radio.

HT alias walkie talkie disebut-sebut sebagai two way radio karena dapat digunakan untuk berkomunikasi dua arah (berbicara dan mendengar). Tak seperti telepon dimana penggunanya bisa berbicara dan mendengar secara bersamaan, pengguna HT harus berbicara dan mendengar secara bergantian.

Kelebihan dari HT dibanding dengan telepon selular adalah dapat digunakan tanpa pulsa ataupun kuota internet. Namun HT juga punya kelemahan yakni hanya dapat digunakan di jarak atau radius 0,5 km sampai dengan 2,5 km. HT juga bisa dibilang sebagai transceiver (transmitter dan receiver) karena dapat memancarkan dan menerima sinyal radio.

Cara Membuat Antena HT

Agar bisa memancarkan dan menerima sinyal dengan baik, tentu HT membutuhkan yang namanya antena. Tanpa adanya antena, sebuah HT tidak dapat memancarakan dan menerima sinyal radio dengan baik. Ada banyak sekali jenis antena HT mulai dari antena open daipul, dual band, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Nah, pada kesempatan yang sangat bagus ini belajarelektronika.net akan mengajak para pembaca semua untuk melihat info terbaru bagaimana cara membuat antena HT sendiri yang dapat menangkap sinyal jarak jauh dengan menggunakan bahan sederhana. Jika anda ingin tahu, silahkan simak ulasan berikut.

Sebelum itu anda perlu tahu bahwa yang akan kita buat ini adalah antena HT sederhana open daipul. Antena jenis ini sangat mudah dibuat dan biaya pembuatannya juga murah. Kita hanya perlu memotong pipa alumunium yang ukurannya kurang lebih 220 cm. Estimasi harganya tak lebih dari 50 ribu rupiah.

Bisa dibilang jauh lebih murah dibanding harus membeli antena HT siap pakai. Sekedar info saja bahwa antena jenis open daipul ini tidak familiar dengan radio brik-brikan 2 meter, namun lebih populer di 11 meter, 80 meter, dan 100 meter (frekwensi SW). Berikut skema gambar antena HT jarak jauh sederhana yang kami maksud.



Nah, dari gambar tersebut dapat kita lihat bahwa susunan bahan yang digunakan sangatlah sedikit dan simpel. Pipa alumunium yang digunakan menggunakan pipa aluminium 5/8″. Antena HT yang kita buat tersebut merupakan antena HT 1/2 lamda dengan perhitungan (lamda =C/F) yaitu 300/freqwensi.
Contoh jika kita ingin memancar di 155 mhz maka 1/2 lamdanya adalah 300/155 x 1/2 =1,93 x 1/2 = 0,96 m atau 96 cm. Jadi kesimpulannya jika kita ingin memancar di 155 mhz diperlukan panjang elemen sekitar 96 cm. Untuk kabel yang digunakan adalah kabel coaxial dengan impedanci 50 ohm.

Sedangkan jenis kabelnya bisa RG 5/8 atau RG 8. Untuk port atau konektornya sendiri bisa disesuaikan dengan perangkat yang digunakan. Untuk penyambungan kabel bisa dibantu dengan mur atau baut seperti skema gambar yang ada di atas. Bagaimana, cukup simpel dan mudah untuk dibuat bukan?

Antena radio HT sederhana tadi bisa digunakan untuk berbagai macam kebutuhan mulai dari militer, kepolisian, atau hanya sebatas hiburan saja. Semoga informasi mengenai cara membuat antena HT jarak jauh sederhana tadi dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Bagan atau Skema Rangkaian Catu Daya Phantom Dari Baterai

Pada kesempatan yang baik ini kami akan memberikan sebuah artikel tentang Bagan atau Skema Rangkaian Catu Daya Phantom Dari Baterai. Rangkaian Catu Daya Phantom Dari Baterai – Mikrofon (pengarah) profesional sering membutuhkan pasokan hantu 48 V. Pasokan ini diumpankan melalui jalur sinyal mikrofon dan harus memiliki kualitas tinggi. Sebuah pasokan portabel dapat dibuat dengan 32 baterai sel AA secara seri, tapi itu tidak sangat user friendly. Rangkaian Catu Daya Phantom Dari Baterai ini hanya memerlukan empat baterai sel AA (atau lima rechargeable 1.2 sel V).

Prinsip Kerja Rangkaian Catu Daya Phantom

Kami memutuskan untuk menggunakan konverter push-pull standar yang mudah dikemudikan dan yang memiliki tegangan output diprediksi. Keuntungan lain adalah bahwa ada mekanisme umpan balik yang kompleks yang diperlukan. Untuk desain rangkaian kita mulai dengan asumsi bahwa kita memiliki satu set segar baterai.

Di bawah ini kami sajikan gambar Skema Rangkaian Catu Daya Phantom untuk bahan pengetahuan dan pembelajaran Anda.



Kami kemudian menginduksikan tegangan di gulungan sekunder yang sedikit lebih tinggi daripada yang kita butuhkan, sehingga kita masih akan memiliki tegangan yang cukup tinggi untuk mendorong regulator tegangan linier bila tegangan baterai mulai drop (lihat rangkaian pada Gambar 1 ). T1 dan T2 dihidupkan dan dimatikan oleh multivibrator astabil.

Kami telah menggunakan multivibrator 4047 berdaya rendah untuk ini, yang telah dikonfigurasi untuk menjalankan dalam mode bebas berjalan astabil. Output komplementer menjamin tugassiklus 50%, sehingga mencegah arus DC mengalir melalui trafo. Inti dinyatakan bisa menjadi jenuh, yang menghasilkan sirkuit pendek antara 6V dan tanah.

Ini bisa berakibat fatal bagi FET. Osilator diatur oleh R1/C1 untuk dijalankan pada frekuensi sekitar 80 kHz. R2/R3 dan D1/D2 membuat T1 dan T2 bekerja sejurus kemudian dan mematikan sedikit lebih cepat, menjamin waktu mati dan menghindari situasi arus pendek. Kami mengukur pada hambatan dari BS170 dan menemukan itu hanya 0,5 Ω, yang tidak buruk untuk jenis FET.

Anda tentu saja dapat menggunakan FET lainnya, asalkan mereka memiliki perlawanan rendah. Untuk transformator kami menggunakan inti toroida agak lebih besar dengan faktor AL tinggi. Hal ini tidak hanya mengurangi kebocoran induktansi, tetapi juga menyimpan jumlah gulungan kecil. Pilihan terakhir kami adalah TX25/15/10-3E5 dibuat oleh Ferroxcube, yang memiliki dimensi sekitar 25 x 10 mm.

Jika Anda memastikan bahwa hubungan pendek tidak dapat terjadi, melalui penggunaan resistor biasa 6k81 di garis sinyal, maka arus yang ditarik per mikrofon tidak akan melebihi 14 mA dan Anda masih dapat menggunakan LM317 biasa. D7 dan D8 melindungi LM317 dari hubungan pendek pada input. Hampir tidak ada riak untuk berbicara. Noise yang tersisa terletak di atas 160 kHz, dan ini tidak akan menjadi masalah di sebagian besar aplikasi.

Rangkaian Catu Daya Phantom Dari Baterai ini dapat memberikan arus yang cukup untuk kekuatan tiga mikrofon pada saat yang sama (walaupun itu mungkin tergantung pada jenis yang digunakan). Ketika tegangan input turun menjadi 5,1 V konsumsi arus sekitar 270mA. Tegangan referensi terkadang menyimpang sedikit dari nilai yang benar. Dalam hal ini Anda harus menyesuaikan R4 untuk membuat tegangan output sebesar 48V. Persamaan untuk ini adalah: R4 = (48Vref) / (Vref / R5 50 μA). Untuk meminimalkan gangguan (ingat bahwa kita sedang berhadapan dengan pasokan switched-mode) Rangkaian Catu Daya Phantom Dari baterai ini harus bertempat di sebuah kandang logam dibumikan.

Itulah sedikit informasi dari kami mengenai Bagan atau Skema Rangkaian Catu Daya Phantom Dari Baterai semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Bagan atau Skema Rangkaian Elektronika Power Amplifier Daya Besar 5000 Watt

Berbicara mengenai rangkaian power amplifier memang tidak akan pernah ada matinya. Karena ada banyak sekali jenis rangkaian amplifier mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Simpel rumitnya rangkaian power amplifier tergantung komponen yang digunakan.

Semakin rumit rangkaian, tentu semakin banyak pula komponen yang digunakan. Seperti yang kita tahu bahwa jenis power amplifier juga bermacam-macam mulai dari amplifier OCL, morales, blazer, dan lain sebagainya. Masing-masing jenis amplifier tersebut punya karakteristik masing-masing.

Dalam kesempatan kali ini kami akan berbagi info mengenai rangkaian power amplifier yang tak biasa. Ya, rangkaian power amplifier memiliki daya yang sangat tinggi mencapai 5000 watt. Rangkaian power amplifier ini prinsip kerjanya sama seperti rangkaian power amplifier OCL pada umumnya.

Rangkaian Amplifier 5000 Watt

Sebenarnya output yang dihasilkan oleh rangkaian amplifier ini hanya 2500 watt saja. Namun karena punya dua channel alias stereo, nilai tersebut dikalikan dua sehingga mendapatkan hasil 5000 watt RMS. Transformator alias trafo yang digunakan pada rangkaian ini juga merupakan trafo biasa tanpa ada modifikasi yang aneh-aneh.

Hanya saja perlu anda tahu bahwa rangkaian ini menggunakan supply tegangan dari lilitan trafo satu gulungan bertegangan tinggi 220/240 volt, mengingat tegangan yang dibutuhkan oleh rangkaian ini cukup besar yakni 130 volt DC. Jadi anda harus hati-hati karena kemungkinan nyetrum atau tersengat oleh listrik tersebut juga tinggi. Berikut info skema rangkaiannya.


Jika dilihat dari skema rangakain tersebut memang cukup rumit. Namun semua komponen yang diperlukan untuk membuat amplifier 5000 watt ini bisa didapatkan dengan mudah. Jika anda ingin meminimalisir dengungan yang dihasilkan, gunakan box dengan bahan alumunium ataupun besi agar saluran grounding dapat bekerja dengan lebih baik.

Selain itu ntuk meminimalisir potensi nyetrum atau sengatan listrik, anda bisa menggunakan box tambahan. Semoga info singkat terkait skema rangkaian power amplifier 5000 watt ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua yang memang dalam waktu dekat ini berencana ingin membangun sebuah amplifier berdaya tinggi. Sampai jumpa.

Rangkaian Penguat Inverting dan Non Inverting

Pada kesempatan kali ini kami ingin memberikan sebuah artikel mengenai pengertian rangkaian penguat inverting dan non inverting. Maksud dari penguat dengan inverting ini ialah inverting (terminal -) diberi sinyal input sedangkan noninverting (terminal +) di ground-kan seperti pada gambar di bawah ini



Keterangan:
Vi  =  tegangan input
Ri  =  tahanan input
Rf  =  tahanan feedback
Ii    =  arus input
Amp = amplifier (penguat)
Vf  =  tegangan diferensial
V0  =  tegangan output

Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, penguat operasional ideal mempunyai penguatan tak berhingga sehingga berlaku rumus :

A    =  V0  :  VS atau
VS   =  V0 / A    menjadi
VS   =  V0 / ∞ =  0 (nol)

Jadi, jelas bahwa pada penguat operasional, tegangan diferensialnya adalah nol (VS = 0) dan juga IS = 0.

Dari gambar (rangkaian penguat dengan inverting), karena VS = 0, maka tegangan input (Vi) memberikan arus melalui Ri dan Rf yang sama besarnya, yaitu Ii = If. Oleh karena itu, berlaku rumus Ohm bahwa :
Ii  =  Vi / Ri  .......... (1)
di mana:
Ii  =  arus input penguat operasional (A)
Vi  =  tegangan input penguat operasional (V) 
Ri  =  tahanan input (impedansi input) dalam ohm (Ω)

Karena tahanan feedback Rf sejajar dengan amplifier, maka tegangan output V0 sama dengan tegangan yang terdapat pada Rf, yaitu :
- V0  =  If . Rf  .......... (2)
atau
If  =  -V0 / Rf
 di mana:
tanda (-) menunjukkan fase yang berlawanan
V0  =  tegangan output
Ii    =  arus feedback
Rf   =  tahanan feedback

Berarti dari persamaan (1) dan (2) dapat dijabarkan menjadi:
-V0 / Vi  =  Rf / Ri
Sebab  Ii  =  If
atau :
V0 / Vi  =  - (Rf / Ri) , karena A  =  V0 / Vi , maka dapat disimpulkan menjadi:
A  =  - (Rf / Ri)  .......... (3)
Dari persamaan (3) jelas bahwa penguatannya ditentukan oleh besarnya tahanan Ri dan Rf, namun untuk parameter penguat operasional tanpa feeback tetap tidak ada pengaruhnya sebab tidak ada arus mengalir melalui terminal (-), tetapi terus melalui Rf

Maka dari itu:
Ii  =  If  (arus input)
Zi  =  Ri  (impedansi input)
Sehingga penguatan penguat operasional dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan berdasarkan pilihan Ri dan Rf tadi.
Contoh :
rangkaian penguat dengan inverting
rangkaian penguat dengan inverting
1) Perhatikan gambar (rangkaian penguat dengan inverting) diatas.

Diketahui
Vi  =  6 mV
Ri  =  5 kΩ
Rf  =  40 kΩ

Berapa penguatannya ?
Penyelesaian:

A  =  Rf / Ri
A  =  40 kΩ / 5 kΩ  =  8 kali

Jadi, penguatannya sebesar 8 kali.

2) Perhatikan gambar (rangkaian penguat dengan inverting) diatas.

Diketahui:
V0  =  100 mV
Ri   =  10 kΩ
Rf   =  100 kΩ

Berapa tegangan inputnya ?
Penyelesaian:

A   =  100 / 10  =  10 kali
10  =  100 mV / Vi
Vi  =  100 mV / 10  =  10 mV

jadi, tegangan inputnya adalah 10 mV.

Rangkaian Penguat Noninverting


Pada rangkaian ini sinyal input diberikan pada terminal (+) (noninverting), sedangkan invertingnya dihubungkan seperti pada gambar dibawah ini.
Rangkaian penguat noninverting
Rangkaian penguat noninverting
Karena pada masing-masing terminal amplifier (amp) tidak ada arus yang diberikan, maka tegangan diferensialnya juga tidak akan ada (VS = 0). Dengan demikian berlaku Ii  =  If dimana :
Ii  =  Vi / Ri  dan
V0  =  If / (Ri  +  Rf)
V0  =  Ii (Ri  +  Rf)
Ii    =  V0 / (Ri  +  Rf)
 Jadi dapat dijabarkan menjadi:
Vi / Ri  =  V0 / (Ri  +  Rf)
V0 / Vi  =  (Ri  +  Rf) / Ri
A  = 1 + (Rf / Ri)
Oleh karena itu, besarnya penguatan pada rangkaian penguat noninverting bergantung pada perbandingan antara tahanan feedback dan tahanan input, kemudian ditambah satu.
Kesimpulan 
Pada Rangkaian penguat dengan inverting maka besarnya penguatan yaitu perbandingan antara tahanan feedback dengan tahanan inverting

A  =  - (Rf / Ri)

Pada rangkaian penguat noninverting besarnya penguatan bergantung pada perbandingan antara tahanan feedback dan tahanan input, kemudian ditambah satu.

A  = 1 + (Rf / Ri)


  

Bagan atau Skema Rangkaian Elektronika Amplifier Mini USB 3 – 6 Volt

Amplifier merupakan sebuah komponen elektronika yang di pakai untuk menguatkan daya atau tenaga secara umum. Dalam penggunaannya, amplifier akan menguatkan signal suara yaitu memperkuat signal arus I dan tegangan V listrik dari inputnya. Sedangkan outpunya akan menjadi arus listrik dan tegangan yang lebih besar.

Besarnya pengertian amplifier sering di sebut dengan istilah Gain. Nilai dari gain yang dinyatakan sebagai fungsi penguat frekunsi audio, Gain power amplifier antara 200 kali sampai 100 kali dari signal output. Jadi gain merupakan hasil bagi dari daya di bagian output dengan daya di bagian input dalam bentuk fungsi frekuensi. Ukuran gain biasannya memakai decible (dB).


Skema Rangkaian Amplifier Mini

Rangkaian amplifier mini yang akan kami share ini tidak memerlukan banyak komponen. Selain itu amplifier ini juga sangat cocok digabungkan dengan speaker kecil seperti speaker komputer. Tegangan yang diperlukan oleh amplifier mini ini juga tidak besar, yakni sekitar 3 hingga 6 volt.

Dengan begitu anda bisa menggunakan baterai sebagai sumber tegangannya, atau jika tidak anda juga bisa menggunakan USB ataupun adaptor kecil-kecilan. Daya output yang dihasilkan oleh amplifier ini sekitar 2 watt dengan beban 8 ohm. Langsung saja berikut skema rangkaian amplifier mini yang kami maksud.



Nah, dari rangkaian tadi dapat kita lihat bahwa IC yang digunakan adalah IC jenis TDA7052. Rangkaian amplifier mini tersebut tidak memerlukan pendingin tambahan karena arus yang diserap nilainya sangatlah kecil, hanya 4 mA saja. Jika anda ingin memodifikasi rangkaian tersebut untuk speaker stereo, bisa lihat gambar di bawah ini.



Demikianlah sedikit informasi mengenai Bagan atau Skema Rangkaian Elektronika Amplifier Mini USB 3 – 6 Volt semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.